![]() |
| Kondisi pasien yang kembali dirawat di rumahnya. (Foto/ist). |
Kota Bima, Jurnal NTB.- Sungguh malang nasib MF, bayi 5 tahun asal Desa Kalampa Kecamatan Woha Kabupaten Bima. Lantaran tak punya biaya operasi, ia harus kembali dirawat di rumahnya.
MF didiagnosa beberapa penyakit oleh RSUD Bima diantaranya adanya cairan pada paru-paru atau Efusi pleura dextra dan pembesaran pada jantung atau yang disebut Cardiomegali.
Seperti yang terungkap melalui status Facebook Jenderal Toma Mbai, dengan kondisi pasien yang kurang mampu seharunya dioperasi oleh pihak RSUD Bima. Namun tidak jadi dilakukan lantaran kendala biaya.
Pasien yang dirawat belum memiliki kartu BPJS. Hanya saja mengantungi rekomendasi dari Dinas Sosial Kabupaten Bima yang menyatakan MF masuk dalam data pra sejahtera dan kartu BPJS yang bersangkutan dalam pembuatan.
Pemilik akun juga menulis bahwa pihak keluarga sudah berupaya melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pihak RSUD BIMA terkait status dan Surat Rekomendasi tersebut agar pasien dapat dilakukan operasi.
"Namun Pihak RSUD BIMA tidak dapat mengindahkan surat-surat tersebut dan menyuruh keluarga korban untuk menghadap ke Dinas Sosial," tulisnya.
Melihat Kondisi demikian, pihak keluarga memulangkan pasien dengan membayar biaya perawatan dan obat-obatan yang cukup besar.
Menanggapi hal itu, Humas RSUD Bima dr. Akbar yang di konfirmasi mengaku, pasien pulang karena atas permintaan sendiri.
Akbar mengaku, MF masuk RSUD pada tanggal 20 April 2022. Pasien didiagnosa beberapa penyakit yaitu Sepsis, BP, Efusi pleura dextra, Cardiomegali, KEP ringan dan Suspect carditis.
"Karena ada kelainan jantung, pasien rencananya akan dilakukan Echo atau tindakan pemeriksaan jantung menggunakan alat komputer," ungkap Akbar.
Kemudian pada Sabtu (23/04), pasien di visite oleh dokter dan akan dilakukan KIE pasien serta echo. Namun tidak jadi karena pasien pulang atas permintaan sendiri.
"Keluarga pasien menolak dan meminta pulang sambil menunggu kartu BPJS jadi pada tanggal 1 Mei mendatang," jelasnya.
Sehingga jelas Akbar, rencana operasi terhadap pasien belum ada, karena pasien baru diambil tindakan operasi setelah ada hasil echo.
"Pasien sendiri yang meminta pulang karena menunggu kartu BPJS aktif," tuturnya.
Mengenai biaya kata Akbar, pembayaran di ruangan hanya Rp 500 ribu saja.
"Obat-obatan banyak kita bantu," pungkasnya.
Jurnal-01

Komentar