
Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif, Abdul Malik, saat dikonfirmasi sejumah wartawan.
Kota Bima, Jurnal NTB – Pemerintah pusat terus mendorong percepatan pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) di daerah. Kota Bima menjadi salah satu daerah yang dinilai memiliki potensi kuat dan strategis untuk dikembangkan berbasis kekayaan lokal.
Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif, Abdul Malik, menyampaikan bahwa terdapat 21 subsektor ekonomi kreatif yang mencakup bidang budaya, teknologi hingga ilmu pengetahuan.
Menurutnya, Kota Bima telah masuk dalam kategori kota kreatif, yang menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis potensi daerah.
“Bima sudah memiliki kekuatan di berbagai sektor, mulai dari kuliner, budaya hingga event daerah. Ini harus dijaga dan terus dikembangkan,” ujarnya saat kegiatan di Museum Asi Mbojo, Sabtu (24/4).
Ia menegaskan, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci utama dalam mempercepat pengembangan ekonomi kreatif. Menurutnya, berbagai event daerah tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi mampu menjadi pemicu lahirnya ide dan inovasi baru di sektor industri kreatif.
“Festival ini menjadi titik awal. Dari sini bisa lahir kreativitas lain, termasuk pemanfaatan brand nasional dengan bahan baku lokal Bima yang ke depan dapat mendorong pertumbuhan industri,” jelasnya.
Sementara itu, Tenaga Ahli Menteri Ekonomi Kreatif Bidang Isu Strategis, Gemintang Kejora Mallarangeng, menekankan pentingnya perlindungan hak kekayaan intelektual bagi pelaku ekraf dan UMKM.
Ia mengingatkan agar produk-produk unggulan daerah segera didaftarkan secara resmi, guna menghindari klaim dari pihak lain sekaligus meningkatkan nilai jual produk.
“Produk unggulan harus memiliki perlindungan hukum melalui hak kekayaan intelektual, sehingga tidak bisa digunakan sembarangan oleh pihak lain,” tegasnya.
Sebagai contoh, kain khas Bima, tembe nggoli, telah didaftarkan sebagai kekayaan intelektual komunal. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat nilai ekonomi produk lokal.
Kegiatan tersebut berlangsung di Museum Asi Mbojo yang menjadi salah satu pusat aktivitas budaya di Kota Bima, sekaligus ruang promosi potensi lokal kepada publik. (RED).

Komentar