Gadai Emas Naik Tajam di Ambalawi Pasca Idul Fitri, Program Bebas Bunga Jadi Daya Tarik

Iklan Atas Halaman 920x250

.

Gadai Emas Naik Tajam di Ambalawi Pasca Idul Fitri, Program Bebas Bunga Jadi Daya Tarik

Kamis, 23 April 2026

Pelayanan di PT Pegadaian.

Bima, Jurnal NTB.-
Aktivitas gadai di wilayah Kabupaten Bima, khususnya Ambalawi, mengalami peningkatan signifikan pasca Idul Fitri 1447 Hijriah. Masyarakat memanfaatkan emas sebagai solusi cepat memenuhi kebutuhan keuangan tanpa harus melepas aset berharga.


Lonjakan transaksi ini tercatat di PT Pegadaian Cabang Bima, terutama pada unit layanan Pegadaian UPC Ambalawi. Peningkatan tersebut dipicu tingginya kebutuhan masyarakat setelah pengeluaran selama Ramadan dan Lebaran.


Data internal Pegadaian hingga akhir April 2026 menunjukkan tren kenaikan transaksi gadai yang cukup tajam dibandingkan sebelum Lebaran. Gadai emas perhiasan menjadi jenis transaksi yang paling dominan.


Emas kini tidak hanya dipandang sebagai instrumen investasi jangka panjang, tetapi juga sebagai aset likuid yang dapat dimanfaatkan sewaktu-waktu. Dana hasil gadai umumnya digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari biaya pendidikan, tambahan modal usaha, hingga kebutuhan rumah tangga.


Deputy Bisnis Area Pegadaian Bima dan Sumbawa, Mustofa, mengungkapkan bahwa perubahan pola pikir masyarakat dalam mengelola keuangan semakin terlihat.


“Pasca Lebaran, kebutuhan dana meningkat. Namun masyarakat lebih memilih menggadaikan emas dibanding menjualnya, khususnya di UPC Ambalawi. Ini menunjukkan kesadaran untuk tetap mempertahankan aset jangka panjang,” ujarnya.


Ia menyebutkan, Pegadaian UPC Ambalawi mencatat pertumbuhan sebesar 21,65 persen secara year to date. Sementara secara keseluruhan, wilayah Bima dan Pulau Sumbawa tumbuh hingga 23,68 persen.


Kemudahan proses dan pencairan dana yang cepat menjadi alasan utama masyarakat memilih layanan gadai. Selain itu, program gadai bebas bunga yang diperpanjang hingga akhir April 2026 turut mendorong peningkatan transaksi.


“Program ini membantu masyarakat mendapatkan dana tanpa beban bunga, sehingga lebih ringan dalam masa pemulihan keuangan setelah Lebaran,” tambah Mustofa.


Sementara itu, Pemimpin Wilayah Kanwil VII Denpasar, Edy Purwanto, menegaskan bahwa tren peningkatan ini terjadi hampir di seluruh wilayah NTB, terutama di Bima.


“Kami melihat pertumbuhan transaksi gadai yang cukup tinggi pasca Lebaran, baik di kantor cabang maupun unit layanan seperti UPC Ambalawi. Ini menandakan masyarakat semakin memahami gadai sebagai solusi keuangan yang bijak,” jelasnya.


Dengan tren tersebut, Pegadaian optimistis layanan gadai akan terus berkembang sebagai salah satu instrumen keuangan yang tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pengelolaan keuangan masyarakat yang lebih terencana.


Tentang Pegadaian:
PT Pegadaian merupakan lembaga keuangan yang telah berdiri sejak 1 April 1901 di Sukabumi, Jawa Barat. Hingga kini, Pegadaian terus bertransformasi sebagai perusahaan pembiayaan yang menghadirkan layanan keuangan inklusif bagi masyarakat.


Sejak 2021, Pegadaian tergabung dalam Holding Ultra Mikro bersama Bank Rakyat Indonesia dan Permodalan Nasional Madani untuk memperkuat dukungan terhadap pelaku UMKM agar naik kelas.


Selain layanan gadai, Pegadaian juga menyediakan berbagai produk seperti tabungan emas, cicilan emas, hingga pembiayaan usaha. Bahkan, Pegadaian kini mengembangkan layanan Bank Emas setelah mengantongi izin dari Otoritas Jasa Keuangan pada 2024.


Melalui berbagai inovasi tersebut, Pegadaian berkomitmen mendorong literasi dan inklusi keuangan, sekaligus membantu masyarakat memperoleh akses pembiayaan yang aman, mudah, dan terpercaya. (RED).