
Kota Bima, Jurnal NTB.– Fenomena meningkatnya populasi wereng daun jagung dalam beberapa waktu terakhir mulai meresahkan warga Kota Bima. Serangga kecil dengan nama ilmiah Dalbulus maidis itu tidak hanya menyerang lahan pertanian, tetapi juga terlihat masuk ke rumah-rumah warga pada malam hari.
Wereng berukuran sekitar 3–4 milimeter ini memiliki ciri khas dua titik hitam di bagian kepala dengan warna tubuh kekuningan hingga cokelat muda. Hama ini dikenal sebagai vektor berbagai penyakit tanaman jagung, seperti bakteri penyebab tongkol tidak berisi serta virus yang memicu tanaman menjadi kerdil.
Secara alami, populasi wereng daun jagung memang cenderung meningkat setiap musim tanam. Hal ini dipicu oleh siklus hidupnya yang singkat serta kemampuan berkembang biak yang tinggi. Dalam kondisi suhu hangat dan ketersediaan tanaman jagung yang melimpah, satu individu betina mampu menghasilkan ratusan telur sehingga populasinya meningkat pesat dalam waktu singkat.
Di Kota Bima, luasnya areal pertanaman jagung turut menjadi faktor pendukung berkembangnya hama tersebut. Puncak populasi biasanya terjadi saat fase vegetatif tanaman, ketika sumber makanan tersedia melimpah. Namun, saat ini tanaman jagung telah memasuki fase generatif, sehingga sumber pakan mulai berkurang dan memicu wereng bermigrasi ke permukiman warga.
Masuknya wereng ke dalam rumah bukan berarti rumah menjadi sumber serangan. Fenomena ini terjadi akibat sifat alami serangga yang tertarik pada cahaya atau dikenal dengan fototaksis positif. Lampu-lampu rumah di malam hari menjadi daya tarik utama bagi wereng dewasa yang sedang bermigrasi dari lahan pertanian.
Dari sisi kesehatan, kehadiran wereng tidak membahayakan manusia. Serangga ini tidak menggigit maupun menularkan penyakit. Namun, jumlahnya yang banyak kerap menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga.
Untuk mengurangi keberadaan wereng di rumah, masyarakat disarankan mematikan atau meredupkan lampu luar, menggunakan lampu berwarna kuning, serta memasang kasa pada ventilasi dan jendela. Menutup pintu dan jendela pada malam hari juga menjadi langkah sederhana yang cukup efektif.
Kepala Dinas Pertanian Kota Bima, Abdul Najir, menegaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari siklus alami dalam ekosistem pertanian jagung.
“Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru, melainkan siklus yang selalu terjadi setiap musim tanam jagung. Saat tanaman memasuki fase generatif, sumber makanan wereng berkurang sehingga mereka bermigrasi dan tertarik pada cahaya lampu di permukiman warga,” jelasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak panik menghadapi kondisi tersebut.
“Kami minta masyarakat tetap tenang. Wereng ini tidak berbahaya bagi manusia karena tidak menggigit maupun menularkan penyakit. Kehadirannya hanya sementara dan akan berkurang seiring perubahan kondisi di lahan pertanian,” ujarnya.
Sementara itu, pada sektor pertanian, serangan wereng tetap menjadi ancaman serius. Selain menghisap cairan tanaman, hama ini juga berperan dalam penyebaran penyakit yang menyebabkan tanaman kerdil, daun menguning, hingga penurunan produksi jagung.
Abdul Najir menambahkan, pihaknya telah melakukan berbagai langkah pengendalian untuk menekan populasi hama tersebut.
“Kami terus memperkuat sistem peringatan dini dan meningkatkan edukasi kepada petani, terutama terkait pola tanam serempak, penggunaan varietas tahan, pengendalian gulma, serta pemantauan rutin populasi hama. Ini menjadi kunci untuk memutus siklus perkembangan wereng,” katanya.
Menurutnya, penggunaan insektisida bukan menjadi solusi utama dan hanya dilakukan sebagai langkah terakhir.
“Penggunaan insektisida harus sesuai rekomendasi petugas di lapangan agar tetap efektif dan tidak menimbulkan dampak lain. Yang paling penting adalah penerapan pengendalian hama terpadu,” tegasnya.
Fenomena ini dipastikan bersifat sementara dan mengikuti dinamika ekosistem pertanian. Namun, kewaspadaan dan pengelolaan yang tepat tetap diperlukan agar dampaknya tidak meluas. (RED).

Komentar