
Ilustrasi/ Foto: AI
KOTA BIMA, JURNAL NTB.- Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Bima meluncurkan inovasi Bio-Pancasila (Biopori Pengolahan Sampah Organik Berbasis Sila) sebagai upaya mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan penguatan nilai-nilai ideologi Pancasila.
Kepala Bakesbangpol Kota Bima, M. Natsir, melalui Kepala Bidang Ideologi, Wawasan Kebangsaan (Iwasbang), Agussalim, mengatakan inovasi tersebut merupakan implementasi nyata peran Bakesbangpol dalam membumikan nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat.
“Inovasi Bio-Pancasila menyentuh aspek pelestarian lingkungan sekaligus pengolahan limbah organik. Nilai-nilai Pancasila tidak boleh berhenti pada retorika, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata,” ujar Agussalim di Kantor Bakesbangpol Kota Bima, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, Bio-Pancasila hadir sebagai solusi terhadap persoalan pengelolaan sampah organik sekaligus menjadi sarana penguatan ideologi kebangsaan. Inovasi ini memanfaatkan lubang resapan biopori berukuran jumbo menggunakan buis beton (gorong-gorong) yang kemudian dimodifikasi menjadi fasilitas taman berupa meja dan kursi yang nyaman.
Agussalim menjelaskan, Bio-Pancasila dikembangkan dengan tiga tujuan utama, yakni dimensi ekologis, sosial-ideologis, dan estetika. Melalui konsep tersebut, pengelolaan sampah organik tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga menciptakan ruang interaksi yang mendorong aparatur mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Inovasi ini membuktikan bahwa keterbatasan lahan perkantoran bukan menjadi penghalang untuk mewujudkan tata kelola sampah yang mandiri dan berkelanjutan. Selain mengolah limbah organik secara langsung di lokasi, Bio-Pancasila juga menghadirkan ruang dialog yang berwawasan ekologi,” jelasnya.
Ke depan, Bakesbangpol Kota Bima menargetkan pengembangan inovasi tersebut melalui dua langkah strategis, yakni replikasi dan digitalisasi.
Replikasi dilakukan dengan menjadikan Bio-Pancasila sebagai pilot project yang dapat diterapkan di instansi pemerintah lainnya maupun di lingkungan sekolah agar manfaatnya semakin luas.
Sementara itu, digitalisasi akan diwujudkan melalui sistem monitoring berbasis QR Code untuk memantau volume kompos yang dihasilkan sekaligus menjadi media edukasi digital mengenai nilai-nilai ideologi Pancasila.
“Melalui komitmen bersama, kami ingin mewujudkan visi Pancasila dalam Aksi, di mana kelestarian alam tetap terjaga dan identitas bangsa terus dipelihara di tengah tantangan zaman yang semakin dinamis,” tutup Agussalim. (RED).

Komentar