
Kota Bima, JURNAL NTB.- Gedung baru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bima telah rampung. Namun, di balik tuntasnya pembangunan fisik tersebut, Pemerintah Kota Bima masih menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan rumah sakit mampu beroperasi dengan fasilitas dan pelayanan yang maksimal.

Wali Kota Bima H. A. Rahman H. Abidin, SE atau Aji Man, menegaskan RSUD Kota Bima tidak boleh berhenti pada keberadaan gedung yang megah. Rumah sakit harus menjadi tempat masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat, aman, nyaman, bersih dan manusiawi.
Penegasan itu disampaikan Aji Man saat memimpin apel gabungan persiapan operasional RSUD Kota Bima di halaman rumah sakit, Senin (31/8) pagi.
Apel tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Bima Feri Sofiyan, Sekretaris Daerah Kota Bima, sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta jajaran pegawai Pemerintah Kota Bima.
Aji Man mengatakan, pemerintah daerah terus berupaya mencari dukungan anggaran untuk melengkapi kebutuhan RSUD. Salah satu target yang tengah diupayakan yakni penambahan fasilitas hingga mampu menyediakan 100 tempat tidur.
Menurutnya, keterbatasan fiskal daerah tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Justru dengan kondisi tersebut, pemerintah dan manajemen rumah sakit harus mampu menentukan prioritas pembangunan serta pelayanan.
“Ini bukan hanya tentang bangunan baru. Yang paling penting adalah bagaimana kita memberikan pelayanan yang cepat dan manusiawi kepada warga,” tegas Aji Man.
Aji Man juga menyoroti berbagai keluhan masyarakat mengenai pelayanan RSUD Kota Bima. Termasuk persoalan kebersihan, kualitas pelayanan maupun pengalaman pasien yang kerap disampaikan melalui media sosial.
Baginya, kritik tersebut tidak boleh dianggap sebagai serangan. Keluhan masyarakat harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem pelayanan rumah sakit.
Ia meminta jajaran manajemen RSUD terbuka terhadap masukan dan segera melakukan pembenahan terhadap berbagai persoalan yang ditemukan di lapangan.
“Utamakan keselamatan pasien. Jangan sampai karena keterlambatan pelayanan kemudian mengakibatkan sesuatu yang fatal. Administrasi bisa menyusul, tetapi nyawa manusia lebih penting,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan dokter, perawat dan seluruh tenaga kesehatan agar memberikan pelayanan dengan hati. Pasien maupun keluarga pasien harus dilayani secara ramah dan diberikan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami.
Menurut Aji Man, kualitas pelayanan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan fasilitas medis, tetapi juga sikap para petugas ketika berhadapan langsung dengan masyarakat.
Karena itu, ia meminta manajemen RSUD mempertimbangkan kehadiran konsultan pelayanan untuk memberikan pembinaan kepada tenaga kesehatan dan pegawai rumah sakit.
Konsep 5S, yakni senyum, salam, sapa, sopan dan santun, dinilai penting untuk membangun budaya pelayanan yang lebih baik.
“Kalau perlu datangkan konsultan untuk mengajarkan bagaimana pelayanan yang baik. Saya ingin RSUD ini bisa memberikan pelayanan yang bahkan lebih baik dari rumah sakit swasta,” katanya.
Aji Man mengaku persoalan pelayanan kesehatan bukan hal baru baginya. Saat masih menjadi anggota DPRD Provinsi NTB, ia mengaku kerap menerima cerita dari masyarakat mengenai pelayanan kesehatan yang dinilai belum maksimal.
Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi pelajaran agar masyarakat Kota Bima tidak lagi merasa harus pergi ke luar daerah hanya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik.
“Dulu ketika saya menjadi DPRD Provinsi, banyak pasien yang bercerita bahwa pelayanan buruk dan mereka memilih berobat ke provinsi. Karena itu, obat pertama untuk memperbaiki pelayanan adalah senyum,” ungkapnya.
Ia menegaskan, dokter dan perawat merupakan bagian terdepan sekaligus wajah RSUD. Karena itu, kedisiplinan tenaga kesehatan menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Aji Man meminta seluruh tenaga medis hadir tepat waktu dan menjalankan tugas sesuai standar pelayanan yang telah ditetapkan.
“Jangan sampai pasien datang jam tujuh, dokter dan perawat baru datang jam sembilan. Selama saya memimpin, hal seperti itu tidak boleh terjadi,” tegasnya.
Selain kualitas pelayanan, Aji Man memberikan perhatian khusus terhadap kebersihan lingkungan rumah sakit.
Ia meminta seluruh area RSUD dijaga agar tetap bersih, nyaman dan memiliki lingkungan yang layak bagi pasien maupun keluarga pasien.
“Rumah sakit itu harus bersih dan wangi. Kalau ada yang bekerja tidak baik, evaluasi. Kalau memang tidak bisa diperbaiki, keluarkan saja,” katanya.
Ia juga meminta manajemen RSUD segera melakukan penataan secara menyeluruh. Pembenahan tersebut mencakup pelayanan medis, administrasi, manajemen internal hingga pengelolaan parkir.
Pemerintah Kota Bima berharap selesainya gedung baru RSUD menjadi titik awal pembenahan pelayanan kesehatan secara menyeluruh.
Dengan dukungan anggaran dan sinergi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan serta manajemen rumah sakit, RSUD Kota Bima diharapkan mampu menghadirkan pelayanan yang lebih profesional sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat. (RED).

Komentar