
Sukarno.
KOTA BIMA, Jurnal NTB.– Pemerintah Kota Bima terus mematangkan persiapan pelaksanaan Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Selain upacara, momentum peringatan kemerdekaan tahun ini akan dimeriahkan dengan atraksi seni budaya Bima bertema “Nikah Baronta” yang digelar terbuka di halaman Kantor Wali Kota Bima.
Persiapan upacara melibatkan sejumlah perangkat daerah. Bagian Umum Setda Kota Bima menyiapkan panggung, dekorasi, auditorium serta perangkat tata suara. Sementara itu, Bakesbangpol Kota Bima menangani latihan dan pemantapan peserta Paskibraka.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bima, H. Sukarno, SH, mengatakan atraksi “Nikah Baronta” akan mengangkat kisah kolosal perjuangan rakyat Bima pada masa pemerintahan Sultan Bima Muhammad Salahuddin dalam menghadapi tentara Jepang.
Hal tersebut disampaikan Sukarno saat ditemui di depan Kantor Wali Kota Bima, Kamis (13/8/2026) sore.
Menurutnya, kisah tersebut berawal ketika tentara Jepang memaksa gadis-gadis Bima untuk dijadikan pekerja hiburan di tempat hiburan yang mereka bangun. Kondisi itu mendapat penolakan keras dari Sultan Bima bersama rakyat.
“Ceritanya pada waktu itu tentara memaksa gadis-gadis Bima dijadikan pekerja hiburan. Sultan Bima beserta rakyat menolak keras, bahkan nyawa menjadi taruhannya,” ujar Sukarno.
Untuk melindungi para gadis, Sultan Bima kemudian memerintahkan agar anak-anak gadis di Bima dikurung di dalam rumah dan tidak diperbolehkan terlihat oleh tentara Jepang.
Dalam situasi tersebut, Sultan Bima juga menggelar pernikahan secara massal yang kemudian dikenal masyarakat Bima sebagai Nikah Baronta. Langkah itu dilakukan agar para gadis Bima memiliki suami sehingga tidak menjadi sasaran tentara Jepang.
“Menurut sejarahnya, tentara Jepang hanya mau mengambil anak gadis, bukan janda dan yang sudah bersuami,” jelasnya.
Sukarno mengatakan kisah tersebut menggambarkan tingginya semangat perjuangan masyarakat Bima dalam mempertahankan kehormatan dan melawan penjajahan hingga Indonesia memasuki masa kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Ia berharap pementasan “Nikah Baronta” tidak hanya menjadi hiburan dalam rangkaian HUT RI ke-81, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal serta menghayati nilai-nilai luhur budaya daerah.
“Diharapkan dengan gelaran seni budaya Bima ini, generasi sekarang dapat menghayati nilai-nilai dan norma luhur budaya daerah serta menggugah semangat membangun bangsa dan daerah,” harapnya.
Selain itu, Disbudpar berharap momentum tersebut dapat memperkuat kecintaan masyarakat terhadap tanah air, bangsa dan negara, sekaligus mendorong kepedulian terhadap budaya lokal.
“Kita berharap masyarakat Kota Bima bersama pemerintah meningkatkan semangat mencintai tanah air, bangsa dan negara, serta daerah dengan berpartisipasi mendukung pembangunan sekaligus mencintai budaya luhur daerah Bima yang agamais,” katanya.
Sukarno menjelaskan, pementasan tersebut akan melibatkan siswa-siswi SD dan SMP terpilih dari sejumlah sekolah di Kota Bima. Guru, sanggar seni dan budaya, serta penyanyi lagu daerah Bima, Ansar Putra dan Aan Saputra, juga turut dilibatkan.
Ia berharap seluruh peserta dapat memberikan penampilan terbaik sehingga atraksi “Nikah Baronta” mampu menambah kemeriahan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di halaman Kantor Wali Kota Bima.
“Kita doakan mudah-mudahan berjalan sukses dan lancar,” tutup Sukarno. (RED).

Komentar